Kamis..official day terakhir yang menjadi momentum awal perjalanan. Secara resmi kami sudah dilantik sebagai peserta Sekdilu 33. The gate for another future i suppose.
A long road to go, but the choice has been taken. So, next is just a matter of commitment, faith and the devotion of what has been done.
Betapa kehidupan selalu penuh plot berliku dan jalan cerita yang berputar-putar. Penuh gap dan suspense yang membuat alurnya sedemikian berwarna. Tak terduga, sarat dengan kejutan-kejutan yang akhirnya membuat jalan ceritanya makin asyik tuk disyukuri.
Bulan Juni-Agustus lalu aku masih berdiri di sebuah sudut yang berbeda. Di ujung Garut-Tasik, di bukit-bukit terjalnya. Di jauhnya Desa Cinta Damai yang benar-benar damai karena keterpencilannya. Desa yang menjadi saksi betapa masih ngerinya tata pemerintahan Negeri tercinta ini. Tapi salut dengan beberapa guru disana yang rela menerjang puluhan kilometer jalan berbatu demi segelintir anak yang ingin mencari secercah cahaya. Masih kuingat betapa lelahnya mencari SMP yang sedemikian tersembunyi karena berada di ujung bukit dan baru kutemukan setelah satu jam dan menempuh 12 km perjalanan dari kantor kecamatan. Mungkin karena kebanyakan kesasar dan susahnya akses jalan sehingga rasa lelah begitu mendera. Apalagi jalanan tanah berpadu dengan batu-batu besar membuat jantungku berdebar lebih kencang karena takut terperosok ke jurang-jurang di tepi jalan. Terlebih aku hanya sendirian dengan motor berban licin dan rem depan yang agak kendor. Salah juga sudah dholim sama motor dengan tidak mengindahkan perawatannya. Pinjaman lagi. Alhamdulillah, semua terobati oleh sepoi angin di puncak bukit sembari menikmati bangunan setengah jadi SMP Negeri 1 Sukaresmi dengan total muridnya yang kurang dari 75. Bahkan dari berita para pengajarnya, saat musim hujan tiba akan makin sedikit makhluk yang datang karena jalan yang teramat licin atau kasus jembatan putus yang hanyut oleh banjir. Namun semangat orang-orang tersebut membuatku malu. Rasa hormat para murid pada para guru mengundang haru. Aku yang tiada mereka kenal sudah kebagian salam hormat penuh hidmat dan sapaan hangat. Kukira mereka akan malu-malu, tapi ternyata keterpencilan mereka tidak membuat anak-anak itu minder. Ya….kenangan manis yang sekarang masih tersisa. Jadi sebegitu syahdu membayangkan kehidupan di laskar pelangi.
Masih kuingat pula enaknya nasi hangat plus sayur kacang merah, garam dan cengek. Begitu sederhana namun nikmat terasa karena bumbunya adalah ketulusan sepenuh hati dari tuan rumah. Beliau seorang paraji (dukun bayi) yang cukup dihormati dan dikenal luas oleh warga sekitar. Rumahnya sederhana, tak ada ruang-ruang khusus karena memang begitu masuk yang kulihat berikutnya adalah pintu dapur. Hanya ada satu petak ruang khusus untuk tempat tidur dengan sekat kain korden satu set kursi tamu kusam dari kayu dengan busa yang sudah tak karuan. di sudut lain ada buffet berisi pakaian orang serumah. Tak ada perabot lain di rumah berlantai kayu dan berdinding bambu itu. Tapi sungguh aku kerasan di dalamnya dan ingin rasanya bermalam disana bersama damai dekapan sang nini.
Beliau dan orang-orang di desa Sukaraja hanyalah sebuah representasi negeriku. Sebagian begitu nrimonya dengan keadaan mereka. Mereka bersyukur dan bersabar dengan apa yang ada. Tapi bukankah syukur dan sabar sebenarnya bukan bahasa pasif… Saat bersyukur bukankah seseorang akan semakin mengulurkan tangannya untuk melakukan amal nyata? Akan semakin bertambah dan bertambah kebaikannya? Dan bukankan dengan bersabar seseorang akan terus dan terus meningkatkan ketahanannya untuk tetap berusaha, walau sedemikian payahnya? Ia tidak patah dan menyerah kalah dengan keadaan yang melingkupinya tapi bertahan dan mencari terobosan agar kuat dalam keteguhan?
Mereka orang-orang yang kuat memang. Meskipun harus membayar Rp 25.000,- untuk sebuah KTP atau bisa lebih murah menjadi Rp 10.000,- jika dilakukan kolosal. Tapi mereka bertahan dengan memanfaatkan daun-daunan yang ditanam di kebun untuk makan harian. Asin pun sudah jadi barang mahal walau hanya seharga Rp 1500,- per ons. Itu hanya bisa terbeli sekali atau dua kali seminggu. Mereka bertahan, tetap mencintai pimpinannya walau ternyata jatah beras belum turun juga. Tetap setegar rerumputan. Itulah yang mereka lakukan. Tak peduli seberapa keras tekanan yang ada di atas dan di sekitarnya, mereka bertahan dalam keringnya kemarau atau derasnya aliran air di kala penghujan. Kebanyakan harus tertatih mengais kehidupan di lahan mereka sendiri. Yang mereka tahu hanya mengais, mengais dan terus mengais sampai mereka tidak menemukan apa-apa selain kerikil di tanah nan kering. Barangkali karena mereka memang tidak dikenalkan dengan cangkul, bajak, atau traktor.
And today…
in quite the opposite corner i stand. Bersama mereka para pembuat kebijakan. Pengemban amanah bumi. Jarak ekstrim yang membuatku melihat dari ujung bukit yang berbeda. Di sini bukitnya buatan manusia. Sepoi anginnya lain karena bisa distel sesuai kemauan penghuninya. Mau makan dengan lauk 3-4 macam sekaligus semua tinggal sendok karena sudah tersedia–sementara waktu gratis pula. Pengen belajar atau membaca tak perlu lah berkilometer berjalan karena tinggal bangun dari kasur, buka laptop klik sana klik sini tiba-tiba dunia sudah ada di pelupuk mata. Tak perlu menyapa dan memberi sapaan penghargaan kepada siapapun karena dunia sudah sedemikian sempit sehingga hubungan mutual kadang kehilangan makna terdalamnya. Loe loe guwe guwe. Well at least tak semua demikian. Paling enggak di flat dan lingkungan sekitarnya baik-baik dan nyaman-nyaman saja. Bersyukur karena masih tersisa nuansa manusia di beberapa sudut. Bisa jadi sebagian hanya prasyarat basa-basi agar nuansanya manusiawi. Selebihnya tersisa dalam budaya robotika. Sebagian lagi tersekat dalam kotak-kotak primordialisme…berlebihankah semua perasaan ini? Terlalu melankoliskan? Hope the true facts were not that close with the impressions in my head. Some might say culture shock..well could be, walau sejauh ini masih bisa jalan lah dengan common sense yang kuyakini. Meskipun terkadang semua kehangatan selaksa hancur saat kumasuki dinginnya Senayan City. Keindahan yang berbeda karena kebanyakan terkurung dalam dinding dinding kaca yang tak semua bisa memiliki.
Kutub-kutub bumi memang selalu berseberangan. Yang satu ada bersama yang lain. So, it’s not a big deal. Masalahnya adalah bagaimana yang satu menyadari keberadaan yang lain. Memahami dan mencoba saling berkait untuk menjalin kelangsungan hidup masing-masing.
Demikiankah?
Sudahkah?
Hmm…
Sebaiknya kusiapkan saja bekal esok hari…kuliah bersama Mr. Boer Mauna tentang Hukum Internasional. It’s getting late and lengthly and nonsense.
Hope that through this way, i still be able to focus to my end.