| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Sep | ||||||
| 1 | 2 | |||||
| 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 |
| 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 |
| 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 |
| 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 |
| 31 | ||||||
Archive for March, 2008
JAM PIKET ORGAN TUBUH
LAMBUNG
Jam 07.00 – 09.00
Jam piket organ lambung sedang kuat,
sebaiknya makan pagi untuk proses
pembentukan energi tubuh sepanjang hari.
Minum jus atau ramuan sebaiknya sebelum
sarapan pagi, perut masih kosong
sehingga zat yang berguna segera
terserap tubuh.
LIMPA
Jam 09.00 – 11.00
Jam piket organ limpa kuat, dalam
mentransportasi cairan nutrisi untuk
energi pertumbuhan. Bila pada jam-jam
ini mengantuk, berarti fungsi limpa
lemah. Kurangi konsumsi gula,
lemak,minyak dan protein hewani.
JANTUNG
Jam 11.00 – 13.00
Jam piket organ jantung kuat, harus
istirahat, hindari panas dan olah
fisik, ambisi dan emosi terutama pada
penderita gangguan pembuluh darah.
HATI
Jam 13.00 – 15.00
Jam piket organ hati lemah, bila orang
tidur, darah merah berkumpul dalam
organ hati dan terjadi proses
regenerasi sel-sel hati. Apabila fungsi
hati kuat maka tubuh kuat untuk
menangkal semua penyakit.
PARU-PARU
Jam 15.00 – 17.00
Jam piket organ paru-paru lemah,
diperlukan istirahat, tidur untuk
proses pembuangan racun dan proses
pembentukan energi paru-paru
GINJAL
Jam 17.00 – 19.00
Jam piket organ
ginjal kuat, sebaiknya digunakan untuk
belajar karena terjadi proses
pembentukan sumsum tulang dan otak serta
kecerdasan.
LAMBUNG
Jam 19.00 – 21.00
Jam piket organ lambung lemah sebaiknya
tidak mengkonsumsi makan yang sulit
dicerna atau lama dicerna atau lebih
baik sudah berhenti makan
LIMPA
Jam 21.00 – 23.00
Jam piket organ limpa lemah, terjadi
proses pembuangan racun dan proses
regenerasi sel limpa. Sebaiknya
istirahat sambil mendengarkan musik
yang menenangkan jiwa, untuk
meningkatkan imunitas.
JANTUNG
Jam 23.00 – 01.00
Jam piket organ jantung lemah.
Sebaiknya sudah beristirahat tidur,
apabila masih terus bekerja atau
begadang dapat melemahkan fungsi
jantung.
HATI
Jam 01.00 – 03.00
Jam piket organ hati kuat. Terjadi
proses pembuangan racun/limbah hasil
metabolisme tubuh. Apabila ada gangguan
fungsi hati tercermin pada kotoran dan
gangguan mata. Apabila ada luka dalam
akan terasa nyeri.
PARU-PARU
Jam 03.00 – 05.00
Jam piket organ paru-paru kuat, terjadi
proses pembuangan limbah/racun pada
organ paru-paru, apabila terjadi
batuk,bersin- bersin dan berkeringat
menandakan adanya gangguan fungsi
paru-paru. Sebaiknya digunakan untuk
olah nafas untuk mendapatkan energi
paru yang sehat dan kuat.
USUS BESAR
Jam 05.00 – 07.00
Jam piket organ usus besar kuat,
sebaiknya biasakan BAB secara teratur
1 TAMPARAN UNTUK 3 PERTANYAAN
Ada seorang pemuda lama sekolah di
luar negeri, kembali ke tanah air.
Sesampainya di rumah ia meminta kepada
orang tuanya untuk mencari seorang
guru agama, kiyai atau siapa saja yang
bisa menjawab 3 pertanyaannya.
Akhirnya orang tua pemuda itu
mendapatkan orang tersebut, seorang
KYAI.
Pemuda : Anda siapa Dan apakah bisa
menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan
izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan
anda.
Pemuda : Anda yakin? Sedangkan Profesor
dan ramai orang yang pintar tidak mampu
menjawab pertanyaan saya.
Kiyai : Saya akan mencoba sejauh
kemampuan saya.
Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:
1.Kalau memang Tuhan itu ada,tunjukan
wujud Tuhan kepada saya?
2.Apakah yang dinamakan takdir?
3.Kalau syaitan diciptakan dari api
kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat
dari api, tentu tidak menyakitkan buat
syaitan. Sebab mereka memiliki unsur
yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah
berfikir sejauh itu?
Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi
pemuda tadi dengan keras.
Pemuda : (sambil menahan sakit) Kenapa
anda marah kepada saya?
Kiyai : Saya tidak marah.. Tamparan itu
adalah jawaban saya atas 3
pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.
Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak
mengerti.
Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Tentu saja saya merasakan
sakit.
Kiyai : Jadi anda percaya bahwa sakit
itu ada?
Pemuda : Ya!
Kiyai : Tunjukan pada saya wujud sakit
itu!
Pemuda : Saya tidak bisa.
Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan
pertama.. kita semua merasakan
kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat
wujudnya.
Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi
akan ditampar oleh saya?
Pemuda : Tidak.
Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh
anda akan menerima tamparan dari saya
hari ini?
Pemuda : Tidak.
Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.
Terbuat dari apa tangan yang saya
gunakan untuk menampar anda?
Pemuda : Kulit.
Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?
Pemuda : Kulit.
Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Sakit.
Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari
api dan neraka juga terbuat dari
api, jika Tuhan menghendaki maka neraka
akan menjadi tempat yang menyakitkan
untuk syaitan.
Ilmu merupakan harta abstrak titipan
ALLAH SWT kepada seluruh manusia yang
akan bertambah bila diamalkan, salah
satu pengamalannya adalah dengan
membagi-bagikan ilmu itu kepada yang
membutuhkan.
Janganlah sombong dengan ilmu yang
sedikit, karena jika ALLAH SWT
berkehendak ilmu itu akan sirna dalam
sekejap, beritahulah orang yang tidak
tahu, tunjukilah orang yang minta
petunjuk, amalkanlah ilmu itu,,
Through another Way
Kamis..official day terakhir yang menjadi momentum awal perjalanan. Secara resmi kami sudah dilantik sebagai peserta Sekdilu 33. The gate for another future i suppose.
A long road to go, but the choice has been taken. So, next is just a matter of commitment, faith and the devotion of what has been done.
Betapa kehidupan selalu penuh plot berliku dan jalan cerita yang berputar-putar. Penuh gap dan suspense yang membuat alurnya sedemikian berwarna. Tak terduga, sarat dengan kejutan-kejutan yang akhirnya membuat jalan ceritanya makin asyik tuk disyukuri.
Bulan Juni-Agustus lalu aku masih berdiri di sebuah sudut yang berbeda. Di ujung Garut-Tasik, di bukit-bukit terjalnya. Di jauhnya Desa Cinta Damai yang benar-benar damai karena keterpencilannya. Desa yang menjadi saksi betapa masih ngerinya tata pemerintahan Negeri tercinta ini. Tapi salut dengan beberapa guru disana yang rela menerjang puluhan kilometer jalan berbatu demi segelintir anak yang ingin mencari secercah cahaya. Masih kuingat betapa lelahnya mencari SMP yang sedemikian tersembunyi karena berada di ujung bukit dan baru kutemukan setelah satu jam dan menempuh 12 km perjalanan dari kantor kecamatan. Mungkin karena kebanyakan kesasar dan susahnya akses jalan sehingga rasa lelah begitu mendera. Apalagi jalanan tanah berpadu dengan batu-batu besar membuat jantungku berdebar lebih kencang karena takut terperosok ke jurang-jurang di tepi jalan. Terlebih aku hanya sendirian dengan motor berban licin dan rem depan yang agak kendor. Salah juga sudah dholim sama motor dengan tidak mengindahkan perawatannya. Pinjaman lagi. Alhamdulillah, semua terobati oleh sepoi angin di puncak bukit sembari menikmati bangunan setengah jadi SMP Negeri 1 Sukaresmi dengan total muridnya yang kurang dari 75. Bahkan dari berita para pengajarnya, saat musim hujan tiba akan makin sedikit makhluk yang datang karena jalan yang teramat licin atau kasus jembatan putus yang hanyut oleh banjir. Namun semangat orang-orang tersebut membuatku malu. Rasa hormat para murid pada para guru mengundang haru. Aku yang tiada mereka kenal sudah kebagian salam hormat penuh hidmat dan sapaan hangat. Kukira mereka akan malu-malu, tapi ternyata keterpencilan mereka tidak membuat anak-anak itu minder. Ya….kenangan manis yang sekarang masih tersisa. Jadi sebegitu syahdu membayangkan kehidupan di laskar pelangi.
Masih kuingat pula enaknya nasi hangat plus sayur kacang merah, garam dan cengek. Begitu sederhana namun nikmat terasa karena bumbunya adalah ketulusan sepenuh hati dari tuan rumah. Beliau seorang paraji (dukun bayi) yang cukup dihormati dan dikenal luas oleh warga sekitar. Rumahnya sederhana, tak ada ruang-ruang khusus karena memang begitu masuk yang kulihat berikutnya adalah pintu dapur. Hanya ada satu petak ruang khusus untuk tempat tidur dengan sekat kain korden satu set kursi tamu kusam dari kayu dengan busa yang sudah tak karuan. di sudut lain ada buffet berisi pakaian orang serumah. Tak ada perabot lain di rumah berlantai kayu dan berdinding bambu itu. Tapi sungguh aku kerasan di dalamnya dan ingin rasanya bermalam disana bersama damai dekapan sang nini.
Beliau dan orang-orang di desa Sukaraja hanyalah sebuah representasi negeriku. Sebagian begitu nrimonya dengan keadaan mereka. Mereka bersyukur dan bersabar dengan apa yang ada. Tapi bukankah syukur dan sabar sebenarnya bukan bahasa pasif… Saat bersyukur bukankah seseorang akan semakin mengulurkan tangannya untuk melakukan amal nyata? Akan semakin bertambah dan bertambah kebaikannya? Dan bukankan dengan bersabar seseorang akan terus dan terus meningkatkan ketahanannya untuk tetap berusaha, walau sedemikian payahnya? Ia tidak patah dan menyerah kalah dengan keadaan yang melingkupinya tapi bertahan dan mencari terobosan agar kuat dalam keteguhan?
Mereka orang-orang yang kuat memang. Meskipun harus membayar Rp 25.000,- untuk sebuah KTP atau bisa lebih murah menjadi Rp 10.000,- jika dilakukan kolosal. Tapi mereka bertahan dengan memanfaatkan daun-daunan yang ditanam di kebun untuk makan harian. Asin pun sudah jadi barang mahal walau hanya seharga Rp 1500,- per ons. Itu hanya bisa terbeli sekali atau dua kali seminggu. Mereka bertahan, tetap mencintai pimpinannya walau ternyata jatah beras belum turun juga. Tetap setegar rerumputan. Itulah yang mereka lakukan. Tak peduli seberapa keras tekanan yang ada di atas dan di sekitarnya, mereka bertahan dalam keringnya kemarau atau derasnya aliran air di kala penghujan. Kebanyakan harus tertatih mengais kehidupan di lahan mereka sendiri. Yang mereka tahu hanya mengais, mengais dan terus mengais sampai mereka tidak menemukan apa-apa selain kerikil di tanah nan kering. Barangkali karena mereka memang tidak dikenalkan dengan cangkul, bajak, atau traktor.
And today…
in quite the opposite corner i stand. Bersama mereka para pembuat kebijakan. Pengemban amanah bumi. Jarak ekstrim yang membuatku melihat dari ujung bukit yang berbeda. Di sini bukitnya buatan manusia. Sepoi anginnya lain karena bisa distel sesuai kemauan penghuninya. Mau makan dengan lauk 3-4 macam sekaligus semua tinggal sendok karena sudah tersedia–sementara waktu gratis pula. Pengen belajar atau membaca tak perlu lah berkilometer berjalan karena tinggal bangun dari kasur, buka laptop klik sana klik sini tiba-tiba dunia sudah ada di pelupuk mata. Tak perlu menyapa dan memberi sapaan penghargaan kepada siapapun karena dunia sudah sedemikian sempit sehingga hubungan mutual kadang kehilangan makna terdalamnya. Loe loe guwe guwe. Well at least tak semua demikian. Paling enggak di flat dan lingkungan sekitarnya baik-baik dan nyaman-nyaman saja. Bersyukur karena masih tersisa nuansa manusia di beberapa sudut. Bisa jadi sebagian hanya prasyarat basa-basi agar nuansanya manusiawi. Selebihnya tersisa dalam budaya robotika. Sebagian lagi tersekat dalam kotak-kotak primordialisme…berlebihankah semua perasaan ini? Terlalu melankoliskan? Hope the true facts were not that close with the impressions in my head. Some might say culture shock..well could be, walau sejauh ini masih bisa jalan lah dengan common sense yang kuyakini. Meskipun terkadang semua kehangatan selaksa hancur saat kumasuki dinginnya Senayan City. Keindahan yang berbeda karena kebanyakan terkurung dalam dinding dinding kaca yang tak semua bisa memiliki.
Kutub-kutub bumi memang selalu berseberangan. Yang satu ada bersama yang lain. So, it’s not a big deal. Masalahnya adalah bagaimana yang satu menyadari keberadaan yang lain. Memahami dan mencoba saling berkait untuk menjalin kelangsungan hidup masing-masing.
Demikiankah?
Sudahkah?
Hmm…
Sebaiknya kusiapkan saja bekal esok hari…kuliah bersama Mr. Boer Mauna tentang Hukum Internasional. It’s getting late and lengthly and nonsense.
Hope that through this way, i still be able to focus to my end.
